Jalan-jalan ke Ceremai

Cerita ini, tokoh utamanya masih sama seperti pada episode “Surga Edelweiss Papandayan“, yaitu saya dan Dimas. Awalnya kami bingung memilih antara gunung Papandayan (lagi), Salak, atau Ceremai. Sebenarnya kalau Dimas sih nyantai, tinggal ngikut. Sayanya aja yang ribet mau nyari yang paling bagus. Hehe..

Berawal dari obrolan di Group Facebook “KIPALA (Komunitas Ikhwan Pecinta Alam)”, kami menimbang dan memutuskan untuk menjajaki gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut pada hari Sabtu 15 Oktober 2011 melalui jalur Linggarjati yang konon paling ramai di antara jalur yang lain.

Kami sama2 berangkat dari kota masing2 menuju Pasar Cilimus, Kuningan. Dimas dari Cileungsi jam 7 malam, saya dari Magelang jam 6 sore. Singkat cerita saya sampai duluan di Pasar Cilimus kemudian singgah di Masjid Agung Cilimus di depan pasar jam 3 pagi. Setengah jam kemudian Dimas sampai juga di Masjid. Kami pun shalat subuh kemudian sarapan pagi dan belanja logistik di pasar.

Pukul 06:30 kami berangkat dari pasar menuju basecamp Linggarjati menaiki angkot warna kuning. Kurang dari 10 menit kami telah sampai di basecamp dan registrasi dengan membayar uang sejumlah Rp.5000; dibayar tunai. Sah? Saah. (apasih)

Bersama kami ada dua rombongan yang naik, tapi hanya kami yang cuma berdua. Pukul 07:00 waktu setempat, kami pun mulai menanjaki lereng Ceremai dari Desa Linggajati dengan ketinggian 580 mdpl. Kurang dari seetengah jam berlalu, kami sampai di Pos pertama di Cibunar. Di sana masih ada warung dan penduduk sekitar, karena di situ masih area ladang orang. Di sinilah sumber air terakhir sebelum ke Puncak. Dengan kata lain, sebenarnya kami akan memulai pendakian dengan membawa air sebanyak-banyaknya karena tidak ada air lagi di atas. Awalnya kami cuma membawa 5 liter air untuk berdua. Tapi kelompok lain ada yang bawa sampe 10 liter air, sehingga membuat saya dan Dimas menambah 5 liter lagi untuk berdua.

Bisa dibayangkan, Dimas harus membawa tenda, nesting+kompor, serta air 6 liter di carriernya yang terbatas. Saya sendiri bagian bawa logistik dan air 4 liter. Beban berat harus kami tanggung untuk sampai ke atas dengan medan yang sangat menanjak dan curam. Ini membuat perjalanan kami lambat karena harus sering beristirahat.

Sejam berlalu dari Cibunar, musibah datang. Carrier yang dibawa Dimas putus, membuat kami harus menghabiskan waktu mengakali carrier supaya bisa tersambung lagi dengan kuat. Saya menawarkan opsi untuk turun dan ke Papandayan, mumpung belum jauh. Karena kalo kesana cukup pakai satu carrier saja untu berdua. Daripada memaksakan naik tapi nanti terjadi apa2 malah lebih susah kalo bawa carrier rusak. Tapi Dimas cukup konfiden, saya manut saja. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan carrier yang disambung talinya.

Sepanjang perjalanan kami lebih sering beristirahat dan membetulkan carriernya Dimas, yang tidak nyaman dipakai karena tidak fleksibel lagi. Dengan kondisi jalan yang ngetrek banget, kami harus bersabar untuk bisa menuju tempat mendirikan tenda sebelum ke puncak. Pos demi pos terlalui, dari Cibunar ke Kuburan Kuda, ke Pangalap, sampai ke Tanjakan Seruni yang lebih parah dari tanjakan manapun yang pernah saya daki. Sampai sebelum Bapatere, hari telah sore menjelang malam, padahal masih 3 km lagi menuju puncak, dan masih kira2 sekian jam lagi sampai ke Pengasinan, tempat camping sebelum ke puncak. Karena kondisi yang sudah lelah dan tidak memungkinkan, kami memutuskan untuk tidak muncak dan memilih untuk camping di situ saja. Malam kami habiskan dengan masak memasak dan ngobrol berdua.

Paginya kami memasak dan sarapan seperti biasa, dan ternyata airnya sisa banyak!! Rasanya kesal sudah capek2 bawa air banyak sampai atas ternyata cuma sedikit yang terpakai. Yasudahlah, sayang juga kalau ditinggal di atas, akhirnya kami bawa turun lagi. Kali ini saya yang bagian bawa airnya, sisa sekitar 4 literan kalo ga salah.

Belum berapa langkah, carrier Dimas putus lagi, kali ini di sisi yang satunya. Akhirnya waktu kami habiskan untuk membetulkannya selama 15 menitan. Sepanjang jalan pun sempat berhenti untuk menyempurnakan ikatan carriernya. Singkat cerita, dari atas jam 8 pagi, sampai basecamp bawah sekitar pukul 11:30. Kami pun makan siang sepuasnya di warung basecamp. Kemudian naik ojek dari basecamp ke Pasar Cilimus dengan tarif 25ribu untuk berdua. Di sana kami mandi, ganti baju dan shalat di Masjid Agung, kemudian lanjut ke Terminal Cirebon.

Sesampainya di sana Dimas langsung naik bis menuju Kp Rambutan sedangkan saya harus mencari bis arah Jogja dulu, karena tidak ada bis yang langsung ke Magelang. Ternyata harus menunggu sampai malam untuk naik bis arah Jogja. Akhirnya jam 4 sore saya berangkat naik bis arah Semarang. Sampai sana jam 10 malam. Saya pun naik bis jurusan Purwokerto jam 10:45 malam. Sampai di Pertigaan Secang dijemput Bapak, dan sampai di rumah tepat jam 1 malam. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. What a journey ^^

Advertisement
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.